Rumah Hikmah

Saling Berbagi Saling Melengkapi

Salah faham tentang sholat istikharah March 30, 2011

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 2:53 am

Pertama: Hanya Diperlukan Saat Ragu-Ragu Memilih

Kedua: Istikharah Hanya Berlaku Untuk Urusan Tertentu Saja

Ketiga: Mesti Shalat Khusus Istikharah

Keempat: Harus Ada Rasa Plong Setelah Istikharah

Kelima: Mesti Mimpi

Dari Jabir bin Abdillah RA, ia berkata: Rasulullah SAW mengajarkan istikharah kepada kami dalam segala urusan, semuanya, sebagaimana beliau mengajarkan sebuah surat dari Al-Qur’an, beliau bersabda: “Jika salah seorang diantara kamu mempunyai keinginan terhadap sesuatu, hendaklah ia melakukan shalat dua rakaat yang bukan fardhu, kemudian membaca doa: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon yang terbaik kepada-Mu dengan wasilah ilmu-Mu dan memohon takdir kepada-Mu dengan wasilah qudrat-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang agung, sebab Engkau memiliki qudrat (kemampuan) sedangkan aku tidak memilikinya, dan Engkau mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkau adalah Dzat yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini – dipersilahkan menyebutkan urusan dan hajatnya- adalah yang terbaik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku’ – atau ia berkata: ‘urusanku sekarang dan kemudian’ –‘ maka takdirkanlah untukku dan mudahkanlah untukku, kemudian, berikanlah keberkahan kepadaku dalam urusan itu, dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini – dipersilahkan menyebutkan urusan dan hajatnya – adalah buruk untukku dalam agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku’ – atau ia berkata: ‘urusanku sekarang dan kemudian’ – ‘maka palingkan ia dariku dan palingkan diriku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku di mana pun ia berada, kemudian, jadikan diriku ridha kepadanya’”.

(HR Bukhari [1162, 6382 dan 7390]) dan juga diriwayatkan oleh yang lainnya.

Lebih lanjut silahkan baca PEMAHAMAN ANEH TENTANG ISTIKHARAH

Advertisements
 

Cinta dan Manja December 31, 2009

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 8:50 am

Jogja-Medio 2007. Kupacu motorku pada kecepatan 50 km/jam. Aku benar-benar ingin merasakan udara dan pemandangan kotaku ini untuk terakhir kalinya. Ya, hari ini aku akan ’hijrah’ ke kota lain untuk melanjutkan study-ku. Satu tas ransel, dua buah tas tenteng dan motor astrea grand 97 ini menemani kepergianku. Sementara barang-barangku yang lain sudah lebih dulu dipindahkan sehari lalu. Tadi sebelum berangkat aku sempet pamitan dengan bapak-ibu kost dan simbah. Temen-temen sudah berangkat kuliah dan kerja, tapi pagi tadi dah pamitan dengan mereka.

Pintu kamarku kubiarkan terbuka, aku tak ingin menutup kenangan-kenanganku disana. Sebelum berangkat, ku sempat terdiam sebentar di depan pintu itu menatap penuh haru kamar kenanganku. Walau baru satu setengah tahun ini aku tinggali, namun kamar ini menjadi saksi perjuangan kerasku menyelesaikan kuliah, menjadi saksi ketika ku mulai merenda cinta, menjadi saksi bagi air mataku juga senyum bahagiaku…

Tidak banyak yang berubah dari kota ini sejak sembilan tahun yang lalu pertama ku menginjakkan kaki disini. Semoga kelak ku kan bisa lagi kembali kesini. Sebagaimana kerinduan Rasulullah kembali ke kota Makah setelah beliau hijrah ke Madinah.

(more…)

 

Kasihanilah Para Pencinta October 14, 2009

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 10:26 am

merpatiSepasang aktivis itu datang menemui saya dengan mata berbinar. Binar cinta yang bersemi di mushalla kampus dan dibangku kuliah dan di arak-arakan jalanan demonstrasi untuk reformasi. Ditengah badai politik itu cinta mereka bersemi.

Tapi cinta gadis keturunan Arab dengan pemuda Jawa itu kandas. Kasih mereka tak sampai ke pelaminan. Restu orang tua sang gadis tak berkenan meneruskan riwayat asmara putih mereka. Tragis. Tragis sekali. Karena dihati siapapun cinta yang tulus seperti itu singgah, kita seharusnya mengasihi pemilik hati itu. Sebab itu perasaan yang luhur. Sebab perasaan yang luhur begitu adalah gejolak kemanusiaan yang direstui disisi Allah. Sebab karena direstui itulah Rasulullah saw lantas bersabda, “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan.”

Islam memang begitu. Sebab ia agama kemanusiaan. Sebab itu pula nilai-nilainya selalu ramah dan apresiatif terhadap semua gejolak jiwa manusia. Dan sebab cinta adalah perasaan kemanusiaan yang paling luhur, mengertilah kita mengapa ia mendapat ruang sangat luas dalam tata nilai Islam.

Itu karena Islam memahami betapa dahsyatnya goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur. Tak ada aral. Tak ada lelah. Tak ada takut. Tak ada jarak. Yang ada hanya hasrat, hanya tekad, hanya rindu, hanya puisi, hanya keindahan. Puisi adalah busur yang mengirimkan panah-panah asmara kejantung hati sang kekasih. Rembulan adalah utusan hati yang membawa pesan kerinduan yang tak pernah lelah melawan waktu.

Dua jiwa yang sudah terpaut cinta akan tampak menyatu bagaikan api dengan panasnya, salju dengan dinginnya, laut dengan pantainya, rembulan dengan cahaya. Mungkin berlebihan atau mungkin memang begitu, tapi siapapun yang melantunkan bait ini agaknya ia memang mewakili perasaan banyak arjuna yang sedang jatuh cinta: separoh nafasku terbang/bersama dirimu.

Bisakah kita membayangkan betapa sakitnya sepasang jiwa yang dipautkan cinta lantas dipisah tradisi atau apa saja? Tragedi Zaenudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Vanderwijck, atau Qais dan Laila dalam Majnun Laila, terlalu miris. Sakit. Terlalu sakit. Karena didalam jiwa seharusnya itu mustahil. Tragedi cinta selamanya merupakan tragedi kemanusiaan. Sebab itu memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai adalah misi terbesar syetan. Sebab itu menjodohkan sepasang kekasih yang saling mencintai adalah tradisi kenabian.

Suatu saat, Khalifah Al Mahdi singgah beristirahat dalam perjalanan haji ke Makkah. Tiba-tiba seorang pemuda berteriak, “Aku sedang jatuh cinta”. Maka Al Mahdi pun memanggilnya, “Apa masalahmu?” “Aku mecintai puteri pamanku dan ingin menikahinya. Tapi ia menolak karena ibuku bukan Arab. Sebab itu aib dalam tradisi kami”.

Al Mahdi pun memanggil pamannya dan berkata padanya, “Kamu lihat putera-puteri Bani Abbasiyah? Ibu-ibu mereka juga banyak yang bukan Arab. Lantas apa salah mereka? Sekarang nikahkanlah lelaki ini dengan puterimu dan terimalah 20 ribu dirham ini: 10 ribu untuk aib dan 10 ribu untuk mahar.”

 

Jalan sunyi cinta June 12, 2009

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 6:51 am

jalansunyiJika engkau amati, kebanyakan manusia rela dengan dunia dan berpaling dari ayat-ayat Allah. Dan sangat sedikit yang sanggup berbeda dengan mereka. Karena ia akan menjadi terasing di antara mereka (Ibnu Qayyim)

Rasulullah telah pergi. Untuk selamanya. Madinah benar-benar terasa sepi. Kepergian Rasulullah adalah kehilangan akan banyak hal. Bukan pada ajarannya. Tapi pada kenangan-kenangan indah bagi orang-orang yang pernah hidup bersamanya. Seperti Abu Dzar Al Ghifari, yang merasakan betul betapa sunyinya hidup sepeninggal Rasulullah.

Abu Dzar memilih pergi ke Syam. Ini tentu bukan keputusan yang ringan. Jangan pernah membayangkan, seseorang yang pernah hidup bahagia bersama Rasulullah di Madinah, bisa dengan mudah meninggalkan kota penuh romantika itu. Setiap sudut Madinah adalah kenangan. Bahkan debu dan pelepah kormanya nyaris fasih berbicara, tentang hari-hari bahagia itu.

Apalagi Abu Dzar, yang setelah Perang Khandaq, membaktikan dirinya secara utuh bersama Rasulullah. Sejak itu ia selalu tinggal disampingnya. Ini benar-benar keputusan yang sangat berat. Berat pada apa yang ditinggalkannya. Berat pula pada apa yang akan didatanginya di tempat yang baru.

Kadang, cinta akan menuntun kita pada jalan sunyi. Tapi, bersabarlah dan jangan bersedih. Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang terbaik dibalik semua itu. Kenikmatan cinta yang ekstra lezat.

Karena cinta bukanlah hadiah murah yang begitu saja diturunkan dari langit. Ia adalah perjuangan. Yang pastinya akan pula bersanding dengan derita. Derita bukanlah musuh cinta. Namun derita akan membuat cinta lebih dewasa. Tunggulah kelak kau akan tahu dan merasakannya…bersabarlah dengan sabar yang indah.

 

Karena Tangismu…

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 6:24 am

tangisKenangan setahun yang lalu… Hari yang melelahkan…uuhh… sembari membuka pintu kelas kuhempas nafas setelah sebelumnya kuhirup dalam-dalam, mencoba memasukkan energi kembali ke tubuh dan jiwaku. Setelah sibuk seharian kuliah dan ngajar, ups…nanti malam masih ada juga amanah acara yang harus kutunaikan sampai biasanya setengah sebelas malam. Berjalan santai menuju ruang kantor dari ruang kelas yang berada di lantai 2 sebuah masjid, ya kelas kami ada di dalam masjid ini. Masih ada 10 menit sebelum adzan maghrib berkumandang memanggil kita untuk “rehat”, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah pada Bilal, “yaa Bilal, arikhna bish-sholah”…

Baru beberapa langkah beranjak dari pintu kelas, tiba-tiba kudengar suara tangis memecah keheningan sore hari itu, “hu…hu…ummiiii…ummiiii….” Tangis anak kecil memanggil-manggil umminya… tiba-tiba saja ada perasaan aneh merasuk dalam diriku… perasaan tenang, rindu, gelisah bercampur membentuk rasa perasaan yang ‘aneh’ dalam diri

Tenang… suara itu seolah bisikan angin lembut yang menghilangkan semua lelah dan resahku. Tangisnya membuatku merasa tenang… mak nyuss, serasa tiba-tiba tubuh lelah ini diguyur air dingin, segar… tiba-tiba tak terasa basah juga mata ini, sekilas kemudian empati menyelinap di hati, empati pada banyak saudara kita yang telah menghiasi hari-harinya dengan tangis dan doa penuh harap di tunjukkan jalan tuk segera menunaikan tugas sucinya, tugas menjadi penggenap kehidupan dan tugas menjadi madrasah peradaban bagi generasi pelanjut perjuangan-menjadi istri dan ibu….

Doaku untuk kalian…semoga segera tunai terbayarkan apa yang kalian rindukan… teringat sebuah doa pada akhir sebuah acara “ Yaa Allah…berikan petunjuk dan kekuatan semoga … amanah menjalankan tugasnya sebagai……” tugas yang kan menghantarkannya pada kedudukan mulia disisiMu..Amin…

 

Murni CINTA May 23, 2009

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 10:31 pm

Akhir 2008… Dengan diantar naik motor menuju Stasiun Kiara Condong membelah jalanan bandung yang dingin, hatiku sedikit berdebar. Pertama berharap masih ada tiket dengan tempat duduk yang bisa kudapatkan, dan yang pasti bukan dengan nomor 3-C, kenapa? Karena ini nomor kursi yang fiktif. Tidak ada di gerbong ekonomi, kursi dengan nomor 3-C. Aku pernah tertipu beberapa bulan lalu saat pulang kampung, dah lama-lama antri, eee…ternyata setelah aku cari-cari ternyata nda ada tempat duduk dengan no itu…Apalagi sekarang dengan lama perjalanan 9-10 jam, baru mbayangin aja rasanya dah capek berdiri selama itu. Kedua, baru kali rasanya setelah sekian lama aku silaturahim dengan kadar murni silaturahim tanpa domplengan-domplengan motivasi lain, ya… silaturahim murni karena cinta.

Kuung…kuung…akhirnya keretaku berjalan, tapi ternyata aku tidak dapat tempat duduk dan kereta sangat penuh. Aku tetap saja berdiri dengan kadang-kadang duduk di lantai (jalan ditengah-tengah gerbong, diantara kursi-kursi) dengan alas sandal yang kupakai. Satu jam, dua jam, tiga jam…belum juga bisa duduk. Aku mulai ngantuk, tanpa sadar aku tertidur, namun baru saja terlelap, ada saja pedagang yang lewat membuatku terbangun. Terus saja begitu. Kereta berangkat pukul 20.30 WIB, sekarang sudah pukul 02.00 WIB. Aku masih saja berdiri dan kereta sangat sesak penuh. Capek, ngantuk… tiba-tiba saja airmata ini mengalir. Teringat sebuah riwayat…

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, bahwasanya ada seorang laki-laki mengunjungi seorang saudaranya (seagama) yang berada di desa lain. Maka Allah SWT mengutus satu malaikat yang menghadang perjalanannya. Maka ketika ia sampai kepadanya ia bertanya: ”Hendak kemana kamu?” Orang itu menjawab:”Saya menginginkan saudara saya di desa ini.” Dia bertanya lagi: ”Apakah kamu berhutang budi kepadanya sehingga sekarang kamu ingin membalas kebaikannya?” dia jawab ”Tidak, aku hanya mencintainya karena Allah SWT.” Maka dia berkata: ”Sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah SWT kepadamu (untuk menyampaikan) bahwa Allah telah benar-benar mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya karena-Nya.” (HR Muslim)

(more…)

 

Cinta (ringkasan Serial Cinta-Anis Matta)..bagian 1 April 14, 2009

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 11:26 pm

Cinta adalah kata yang mewakili seperangkat kepribadian yang utuh : gagasan, emosi dan tindakan. Gagasannya adalah tentang bagaimana membuat orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik berbahagia karenanya. Ia juga emosi yang penuh kehangatan dan gelora, karena seluruh isinya adalah semata-mata keinginan baik. Tapi ia harus mengejawantah dalam tindakan nyata. Sebab gagasan dan emosi saja tidak merubah apapun dalam kehidupan kita kecuali setelah ia menjelma jadi aksi. Mencintai-dengan begitu-adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan kepribadian. Maka para pencinta sejati selalu mengembangkan kepribadian secara terus-menerus. Cinta adalah pekerjaan orang kuat.


Kalau inti cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pencinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang maka kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati paling dalam dan keinginan yang tulus. Perhatian adalah pemberian jiwa: semacam penampakan emosi yang kuat dan keinginan baik kepada orang yang kita cintai. Memperhatikan adalah kondisi dimana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada diluar dirimu. Itulah kekuatan para pencinta sejati: bahwa mereka adalah pemerhati yang serius. Mereka berusaha secara terus-menerus untuk memahami latar belakang kehidupan sang kekasih, menyelidiki seluk beluk persoalan hatinya, mencoba menemukan karakter jiwanya, mendefinisikan harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan mengetahui kebutuhan-kebutuhannya untuk sampai kepada harapan-harapannya itu.


Pekerjaan kedua seorang pencinta sejati, setelah memperhatikan, adalah penumbuhan. Inilah cintanya cinta. Inilah rahasia besar yang menjelaskan bagaimana cinta bekerja mengubah kehidupan kita dan membuatnya menjadi lebih baik, lebih bermakna. Jika perhatian memberikan pemahaman yang mendalam tentang sang kekasih, maka penumbuhan berarti melakukan tindakan-tindakan nyata untuk membantu sang kekasih bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Seorang pencinta sejati harus bisa mengimajinasikan sebuah plot akhir dari kehidupan yang akan dijalani kekasih. Itu tidak berarti bahwa kita mengintervensi kehidupan pribadinya dan mengatur kehidupannya secara rigid atas nama cinta. Ia menginspirasi sang kekasih untuk meraih kehidupan paling bermutu yang mungkin ia raih berdasarkan keseluruhan potensi yang dimilikinya. Penumbuhanlah yang membedakan cinta yang matang dengan cinta seorang melankolik. Penumbuhan adalah sisi paling rasional dan realistik dari cinta. ”Dan nafas cintanya meniup kuncupku jadi bunga”, ungkap Iqbal pada gurunya.

(more…)