Rumah Hikmah

Saling Berbagi Saling Melengkapi

A Reflection for Transnational Business Actors May 29, 2009

Filed under: Celoteh Jari — firdaus84 @ 4:07 am

Shofwan memenangkan The 39th St Gallen Symposium yang berlangsung di Swiss, 7–9 May 2009. St Gallen Symposium adalah acara tahunan yang dihadiri sejumlah pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia untuk berdialog dengan para pemimpin muda. Dalam acara tersebut, para ratusan pemimpin muda diseleksi lewat karya tulis bertemakan krisis global, untuk kemudian diambil 3 terbaik dan dipersilakan menyampaikan gagasannya di hadapan forum dunia. Berikut isi makalahnya :

My first arrival at Japan was deeply dominated by admiration -both on Japan’s technologies that I saw for the first time (including a simple vending machine in Kansai International Airport’s corner), and on how the globalization has made me possible to be there. In my grandfather’s days, going abroad was a difficult thing that could take months or even years. It was the reason why every time somebody is going to depart for hajj, we will have a traditional festival to pray for his or her safety. In my father’s days, it was getting shorter –but still difficult and long. Now, it is easier to go from one part to another part of the globe. It takes only seven hours from Jakarta to Osaka. The world is getting more connected.

In my second coming to Japan, in 2008, I realized that something different was happening simultaneously. The immigration officer asked me to put my fingers on a machine. My finger prints were taken. “For security, Sir!” he told me. I smiled.

Introduction: The Flat and the Fortress

Inspired by his travel to Bangalore, India, Thomas Friedman wrote a revelation arguing that “The World is flat.” Countries are no longer in a different ‘level of playing field’. All competitors, despite its historical background, are now having equal opportunities. Political and economic boundaries are fading away in a fast pace.

Noting that the Friedman put the crumbling of Berlin Wall as one primary mover of the World’s flattening, one should aware that the collapse of World Trade Centre’s Twin Towers was a symbol of an entirely different story. The emergence of ‘homeland security’ doctrine created excuses for the strengthening of border control in North America. Immigration procedures are getting stricter in Europe and almost all parts of the World. The so-called “flat world” seems to be jagged. Political and economic boundaries are still there –and may become stronger in the future.

(more…)

 

Murni CINTA May 23, 2009

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 10:31 pm

Akhir 2008… Dengan diantar naik motor menuju Stasiun Kiara Condong membelah jalanan bandung yang dingin, hatiku sedikit berdebar. Pertama berharap masih ada tiket dengan tempat duduk yang bisa kudapatkan, dan yang pasti bukan dengan nomor 3-C, kenapa? Karena ini nomor kursi yang fiktif. Tidak ada di gerbong ekonomi, kursi dengan nomor 3-C. Aku pernah tertipu beberapa bulan lalu saat pulang kampung, dah lama-lama antri, eee…ternyata setelah aku cari-cari ternyata nda ada tempat duduk dengan no itu…Apalagi sekarang dengan lama perjalanan 9-10 jam, baru mbayangin aja rasanya dah capek berdiri selama itu. Kedua, baru kali rasanya setelah sekian lama aku silaturahim dengan kadar murni silaturahim tanpa domplengan-domplengan motivasi lain, ya… silaturahim murni karena cinta.

Kuung…kuung…akhirnya keretaku berjalan, tapi ternyata aku tidak dapat tempat duduk dan kereta sangat penuh. Aku tetap saja berdiri dengan kadang-kadang duduk di lantai (jalan ditengah-tengah gerbong, diantara kursi-kursi) dengan alas sandal yang kupakai. Satu jam, dua jam, tiga jam…belum juga bisa duduk. Aku mulai ngantuk, tanpa sadar aku tertidur, namun baru saja terlelap, ada saja pedagang yang lewat membuatku terbangun. Terus saja begitu. Kereta berangkat pukul 20.30 WIB, sekarang sudah pukul 02.00 WIB. Aku masih saja berdiri dan kereta sangat sesak penuh. Capek, ngantuk… tiba-tiba saja airmata ini mengalir. Teringat sebuah riwayat…

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, bahwasanya ada seorang laki-laki mengunjungi seorang saudaranya (seagama) yang berada di desa lain. Maka Allah SWT mengutus satu malaikat yang menghadang perjalanannya. Maka ketika ia sampai kepadanya ia bertanya: ”Hendak kemana kamu?” Orang itu menjawab:”Saya menginginkan saudara saya di desa ini.” Dia bertanya lagi: ”Apakah kamu berhutang budi kepadanya sehingga sekarang kamu ingin membalas kebaikannya?” dia jawab ”Tidak, aku hanya mencintainya karena Allah SWT.” Maka dia berkata: ”Sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah SWT kepadamu (untuk menyampaikan) bahwa Allah telah benar-benar mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya karena-Nya.” (HR Muslim)

(more…)

 

belantara dan samudera May 7, 2009

Filed under: Celoteh Jari — firdaus84 @ 3:06 am

berlayar membelah samudera

berpetualang membuka belantara

mempersembahkan sepenuh raga dan jiwa

berani mengorbankan apapun juga

walau penat dan perih mendera

semua itu ringan adanya

demi sebuah cita

demi sebuah cinta