Rumah Hikmah

Saling Berbagi Saling Melengkapi

Umur Flashdisk January 12, 2009

Filed under: Celoteh Jari — firdaus84 @ 2:56 am

berikut artikel dari milis tetangga…

Beberapa waktu lalu saya browsing di internet dan iseng-iseng cari tahu tentang USB drive atau yang sering kali dikenal dengan Flash Disk. Di halaman internet itu saya membaca bahwa sebuah Flash Disk mempunyai umur yang lebih terbatas daripada sebuah Hard Disk. Pada Flash Disk umur dibatasi oleh sebuah parameter yang disebut dengan “Write Cycle”. Hal ini memang sudah pernah saya baca pada beberapa datasheet IC memory Flash Disk.

“Write Cycle” adalah kemampuan media storage untuk ditulisi atau dihapus. Sekali penghapusan dan penulisan akan menghasilkan 2 kali write cycle. Karena pada media penyimpanan, penghapusan biasanya adalah penulisan dengan bit “0”. Pada umumnya, Flash Disk menggunakan memory yang dinamakan dengan SLC (Single Level Cell) atau MLC (Multi Level Cell). Untuk detail perbedaan SLC dan MLC saya kurang begitu tahu. Namun, sejauh yang pernah saya baca, SLC disusun dari satu buah die chip dalam satu kemasan IC dan MLC disusun dari beberapa buah die chip dalam satu kemasan IC. Bisa anda bayangkan bagaimana die chip ditumpuk dan di”bonding” (pengkabelan dalam kemasan IC) ^.^

SLC atau MLC ini mempunyai write cycle sekitar 100.000 dan 10.000. Artinya setelah write cycle dilampaui, maka Flash Disk sudah tidak dijamin akan bisa digunakan kembali. Hal ini sering kali menyebabkan Flash Disk terdeteksi Windows tetapi tidak bisa digunakan. Baik SLC maupun MLC dibuat dari sebuah teknologi IC flash yang disebut NAND Flash. NAND Flash adalah teknologi IC flash yang disusun dari cell-cell flash bertopologi gerbang NAND. Tiap-tiap cell terbentuk dari sebuah transistor Floating-Gate MOSFET. Pada waktu bit “0” disimpan, elektron akan terjebak dalam Floating Gate. Dan pada waktu bit “1” disimpan, elektron akan dilepaskan dari Floating Gate.

(more…)

 

Ejawantah Cinta January 9, 2009

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 8:57 am

Siang kemaren sembari makan siang, ana nonton acara ‘Hati Nurani’ di salah satu stasiun TV. Acara ini mengisahkan perjuangan orang-orang yang terhimpit kekurangan dan keterbatasan. Namun subhanallah mereka terus berjuang tanpa menyerah. Ana jadi merasa sangat tersindir, karena sering menjalani episode kehidupan tanpa disertai kesadaran penuh akan kesyukuran. Ya Rabbi…faghfirlii…tes…tes…netes juga ni air mata.

Salah satu kisah yang ditayangkan adalah perjuangan seorang nenek yang sudah renta, usianya hampir 80 tahun. Beliau hidup seorang diri tanpa keluarga di Jakarta. Suami dan anaknya telah berpulang menghadapNya lebih dahulu. Tiap hari ia berjalan keliling kampung menjajakan makanan kecil, rempeyek. Dari situlah ia membiayai kebutuhan hidupnya. Hidup ditengah kerasnya ibu kota, mengontrak sepetak kamar yang jauh dibawah standar kelayakan.

Aku jadi teringat dengan simbah kakungku. Beliau juga sudah renta. Simbah putri meninggal dua bulan yang lalu. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… Allahumma firlaha warhamha wa’afihi wa’fu’anha… Simbah kakung walau sudah renta tapi juga tetap giat bekerja. Dulu pernah beliau menginap di rumahku beberapa hari. Betapa kagetnya kami, begitu pulang kerumah. Karena halaman depan dan belakang rumah menjadi sangat bersih dan rapi. ”Lho mbah kakung kok malah bersih-bersih, mangke sayah trus gerah pripun?”, protes bundaku. ”Aku ki wis biasa tumandang gawe, nek ora ngopo-ngopo malah awakku sing loro”, jawabnya ringan. Kami pinginnya beliau beristirahat, ee..kalau tidak melakukan sesuatu beliau malah nda enak badan. Yup, memang bagi siapa terbiasa bergerak, diam justru akan jadi sumber penyakit baginya.

Kadang jadi berfikir, apa yang menurut kita baik bagi orang lain. Ternyata bukan begitu orang lain menilai itu baginya. Kadang ada orang tua yang merasa bahwa kasih sayang pada anak-anaknya diwujudkan dengan memberi segala bentuk fasilitas hidup. Namun, kecupan dan kebersamaan yang dirindukan anaknya. Makanya banyak anak bermasalah bukan karena kekurangan fasilitas hidup, tapi karena kurang perhatian orang tua.

Kali lain ada seorang anak yang ingin menunjukkan baktinya pada orang tuanya. ”Bapak, Ibu mulai sekarang pensiun aja. Biar nanda yang bekerja, insyaAllah nanda bisa. Bapak Ibu kan bisa beristirahat dan lebih menikmati hidup….” Bapaknya diam saja hanya tersenyum. Ibunya dengan lembut bertutur, ”Nduk, bapak ibu bekerja bukan hanya karena tuntutan ekonomi, memang kita bukan keluarga kaya. Tapi justru kami menikmati hidup dengan bekerja, kami bahagia dengan cara mengisi hidup dengan karya.” Didekatinya anaknya, dengan lembut Ibu membelai anaknya …

”Ibu sangat mengerti keinginanmu untuk membahagiakan kami, bagi kami kebahagiaan adalah ketika melihatmu bahagia, apakah nanda sudah bahagia?” tanya lembut ibunya. ”Hmm….”, belum selesai ia menjawab pertanyaan ibunya, bapaknya kemudian menyela. ”Kayaknya belum bahagia anak kita ini bu, bukankah kebahagiaan sering disimbolkan dengan menemukan pasangan hidup…”, bapak berhenti berkata sambil menahan tawa melihat muka putrinya yang memerah. ”Iya nih, ibu sudah pengin menimang cucu…”.

Dengan cara apa kita membahagiakan orang-orang yang kita cintai? Benarkah itu telah membuat mereka bahagia?……