Rumah Hikmah

Saling Berbagi Saling Melengkapi

Tergerak di Titik Balik December 10, 2008

Filed under: Celoteh Jari — firdaus84 @ 2:40 am

Satu teriakan perlawanan, bukan ketakutan
Satu suara dalam kegelapan, satu ketukan pada pintu
Dan sebuah dunia yang menggemakannya bertalu-talu
-Henry Wardsworth Longfellow, Revere

Tidak pernah terjadi dalam sejarah, para panglima pasukan musuh, seluruhnya masuk ke dalam agama penakluknya. Kecuali peristiwa yang indah itu; Fathul Makkah. Dan wanita ini ambil bagian dalam kancah itu, dengan sebuah perjalanan yang sulit, dengan cinta yang rumit, dengan mengalahkan dendam yang pahit.

Namanya Ummu Hakim binti Al Harits. Di lahir, tumbuh, dan merenda masa depan di tengah keluarga yang paling dahsyat permusuhannya terhadap da’wah Rasulullah, Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Ayahnya, Harits ibn Hisyam, hingga ajal menjemput tak henti memusuhi Sang Nabi. Paman, sekaligus mertuanya adalah Abu Jahl ibn Hisyam, Fir’aun-nya ummat ini. Dan harus kita sebut nama suaminya, ‘Ikrimah ibn Abi Jahl, panglima Makkah yang paling ganas dan ditakuti setelah Khalid ibn Al Walid.

Hari itu adalah hari takluknya Makkah. Nama suaminya berada di deret atas daftar pencarian pasukan Rasulullah. Untuk dibunuh. Karena permusuhan sengitnya yang tak kunjung henti, karena keganasannya dalam menyiksa kaum beriman. Juga demi pemusnahan dendam kesumat dan darah kejahatan yang mengalir dalam dirinya; darah Abu Jahl. Sebuah nama yang mendenging di telinga kaum muslimin sebagai pembantai orang beriman, penganiaya mukmin lemah, pengobar kebencian, permusuhan, dan peperangan.

Dia berharap hari itu suaminya akan memenuhi ajakan Khalid ibn Al Walid yang membawa pesan padanya, ”Masuklah Islam, engkau akan selamat!” Ya, masuk Islam saja. Atau setidaknya berpura-pura. Tapi jawaban ’Ikrimah sungguh menggiriskan hatinya. ”Andaikan di muka bumi ini tak tersisa lagi selain diriku, aku tetap takkan mengikuti Muhammad selama-lamanya!” Keras kepala! Keras kepala! Persis seperti ayahnya yang memilih kehancuran daripada kebenaran ketika berdoa, ”Ya Allah jika apa yang dibawa Muhammad itu memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dengan batu dari langit!”

(more…)

 

Ekstase Mi’raj

Filed under: Celoteh Jari — firdaus84 @ 12:35 am

Sekiranya ku menjadi Muhammad

Takkan sudi ku beranjak ke bumi

Setelah sampai di dekat ’Arsyi

-’Abdul Quddus, Sufi Ganggoh

Buraq namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. Malam itu diiring Jibril, dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, isteri setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung yang penuh kasih meski tetap enggan beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari. Ia merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda kuasaNya.

Buraq namanya. Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha ketika seluruh Nabi dan Rasul berhimpun di sana. Mereka shalat. Dan penumpangnya itu kini mengimami mereka semua. Tetapi dari sini Sang Nabi berangkat untuk perjalanan yang menyejarah. Disertai Jibril ia naik ke langit, memasuki lapis demi lapis. Bertemu Adam, Yahya serta ’Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan naik lagi menghadap Allah hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur. Allah membuka tabirNya..

Allah.. Allah.. Jika melihat Yusuf yang tampan sudah membuat jari para wanita teriris mati rasa, apa gerangan rasa melihat Sang Pencipta yang Maha Indah? Atau katakan padaku sahabat, apa yang kau rasakan saat melihat Ka’bah yang mulia untuk pertama kalinya? Ya, sebuah ekstase. Kita haru. Kita syahdu. Air mata menitik. Raga terasa ringan. Jiwa kita penuh. Mulut kita ternganga. Maka apa kira-kira yang dirasakan Muhammad, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam ketika ia mi’raj bertemu Rabbnya? Kesyahduan. Keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan ruhani. Kelegaan jiwa. Tiada tara. Tiada tara. Tiada tara.

Demi Allah, alangkah indahnya, betapa nikmatnya..

(more…)

 

Mencintai karena-Nya December 2, 2008

Filed under: Serial Cinta — firdaus84 @ 8:43 am

Saling mencintai karena Allah SWT memang memiliki banyak sekali keutamaan, diantaranya adalah yang terdapat dalam hadits berikut :

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW, beliau bersabda: ”Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah SWT dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada lagi naungan Allah, mereka itu adalah (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3) seorang laki-laki yang hatinya digantungkan pada masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah SWT, keduanya berkumpul dan berpisah atas dasar cinta Allah, (5) seorang lelaki yang diajak mesum oleh seorang wanita cantik dan menawan lalu ia berkata: ”sesungguhnya saya takut kepada Allah”, (6) seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan (7) seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesendirian maka kedua matanya mengucurkan air mata (HR Bukhari-Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata : ”Rasulullah SAW bersabda:’sesungguhnya Allah SWT berfirman pada hari kiamat :’dimanakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini aku menaungi mereka dengan naungan-Ku, hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Tirmidzi)

(more…)

 

Laskar Pelangi di rumahku… December 1, 2008

Filed under: Celoteh Jari — firdaus84 @ 2:34 am

Semoga menjadi laskar pejuang Islam, yang kan memenuhi hari-harinya dengan perjuangan di bawah pelangi cinta, ketulusan dan kesungguhan…

Keponakanku dari mba Indra dan Mas Masykur…

alif-dan-nafis

Muhammad Dakwan alifi (5th) dan Muhammad Shofwan Nafis (3th)

Keponakan baru dari Mba Dewi dan Mas Yadi, Ahmad Rafi Qomaru Zaman

foto028